Menata Kota Tua, Menjaga Laut, Memuliakan Rasa: Cetak Biru Pariwisata Kota Padang yang Berketahanan dan Berkelas

 



Oleh:
Dr. H. Febby Dt. Bangso, SST.Par., M.Par., QRGP, CFA

Ada satu pertanyaan strategis yang harus dijawab Kota Padang hari ini:Apakah kita ingin menjadi destinasi yang ramai, atau destinasi yang bernilai? Ramai belum tentu berkelas. Penuh belum tentu bermartabat.

Dalam satu dekade terakhir, arah pembangunan pariwisata global telah berubah secara fundamental. Dunia bergerak dari quantity tourism menuju quality tourism. Pergeseran ini ditegaskan dalam berbagai pedoman pembangunan berkelanjutan yang dirumuskan oleh UN Tourism, yang menempatkan keberlanjutan, warisan budaya, dan kesejahteraan masyarakat lokal sebagai pilar utama destinasi masa depan.

Indonesia merespons perubahan ini melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025 tentang Kepariwisataan yang menekankan pariwisata berkualitas, berkelanjutan, berbasis budaya, dan berdaya saing global. Norma hukum sudah progresif. Namun implementasi di daerah akan menentukan arah sejarah. Dan Kota Padang hari ini berada tepat di titik krusial itu.

Padang sebagai Heritage Port City: Identitas yang TerlupakanPadang bukan kota biasa. Ia adalah kota pelabuhan kolonial yang tumbuh sebagai simpul perdagangan internasional di pantai barat Sumatera. Kawasan kota tua, bangunan administrasi perdagangan, gudang komoditas, serta jalur rel yang dahulu menghubungkan pedalaman Minangkabau ke pelabuhan adalah bukti konkret bahwa kota ini pernah menjadi node ekonomi global.

Pelabuhan Emmahaven—kini dikenal sebagai Pelabuhan Teluk Bayur—pernah menjadi gerbang ekspor kopi, lada, dan emas dari ranah Minang ke pasar dunia. Rel kereta api yang terhubung ke kawasan pelabuhan memperlihatkan integrasi ekonomi kolonial yang modern pada zamannya.

Namun warisan ini belum sepenuhnya diposisikan sebagai core tourism asset. Dalam perspektif pembangunan destinasi modern, heritage bukan ornamen, melainkan jangkar identitas. Kota-kota dunia yang berhasil mengembangkan high value tourism selalu memulai dari konservasi yang disiplin, interpretasi sejarah yang kuat, serta manajemen kawasan yang profesional.

Padang memiliki kawasan kota tua. tetapi belum sepenuhnya memiliki heritage management system.
Cagar budaya ada, namun sering terfragmentasi dalam kebijakan. Ia menjadi latar belakang, bukan arah pembangunan.

Padahal UU 18/2025 secara eksplisit menegaskan bahwa pembangunan kepariwisataan harus berbasis budaya dan menjamin pelestarian nilai sejarah. Tanpa integrasi kebudayaan dan pariwisata, amanat undang-undang hanya berhenti sebagai norma administratif.

Jika kawasan kota tua tidak ditata sebagai heritage city district yang terkurasi—dengan zonasi ketat, pedestrian nyaman, interpretasi sejarah profesional, pencahayaan arsitektural, dan tata kelola kawasan terpadu—maka kita bukan hanya kehilangan peluang ekonomi, tetapi kehilangan martabat sejarah.

Gastronomy City: Dari Popularitas Menu ke Peradaban Sanitasi

Tidak ada Padang tanpa gastronomi. Rendang, sate, dan ragam kuliner Minangkabau telah membentuk identitas global.Namun gastronomi kelas dunia tidak berhenti pada rasa. Ia berdiri di atas tiga fondasi utama:
Kualitas bahan dan teknik tradisional , Standar hygiene dan sanitasi , Manajemen pelayanan profesional Di sinilah tantangan serius muncul.

Destinasi yang mengklaim diri sebagai gastronomic city tidak dapat mentoleransi dapur tanpa standar air bersih, pengelolaan limbah yang lemah, atau fasilitas toilet publik yang tidak layak. Isu toilet bukan isu remeh. Ia adalah indikator kematangan destinasi.Pariwisata berkualitas sebagaimana diamanatkan UU 18/2025 mensyaratkan keamanan, kenyamanan, dan keselamatan wisatawan.

Standar sanitasi restoran, sertifikasi hygiene, pengawasan kualitas air, serta audit kebersihan berkala harus menjadi sistem yang melembaga—bukan sekadar imbauan. High value tourism dibangun dari rasa yang bermartabat.
Dan martabat dimulai dari kebersihan.

Marine Tourism dan Blue Economy: Mengembalikan Padang ke Lautnya

Padang lahir dari laut. Namun strategi maritimnya belum sepenuhnya terintegrasi dalam visi pariwisata.
Konsep blue economy menekankan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan dengan tetap menjaga ekosistem pesisir. Ini berarti:Pengelolaan pantai berbasis konservasi,Pengurangan sampah plastik laut ,Revitalisasi waterfront sebagai ruang publik berkualitasIntegrasi wisata bahari dengan narasi sejarah pelabuhan Marine tourism tidak boleh hanya menjadi panorama visual. Ia harus menjadi narasi sejarah, ekologi, dan ekonomi rakyat.
Jika pesisir tercemar dan tata ruang semrawut, maka blue economy tinggal jargon. Menjaga laut adalah strategi ekonomi jangka panjang.

Green Economy dan Tourism Resilience

Perubahan iklim, risiko gempa dan tsunami, serta tekanan urbanisasi adalah realitas geografis Padang. Dalam konteks ini, pembangunan pariwisata tidak boleh abai terhadap resilience.Green economy dalam konteks kota berarti:Infrastruktur hijau pesisir,Sistem drainase adaptif ,Ruang terbuka hijau memadai, Transportasi rendah emisi di kawasan heritage Ketahanan pariwisata bukan hanya kemampuan pulih dari krisis, tetapi kemampuan menjaga standar kualitas secara konsisten.Resilience bukan slogan.Ia adalah desain kebijakan.

Global Tourism Resilience Day 2026

Momentum Menegaskan Ketahanan Pariwisata Kota Padang Setiap tanggal 17 Februari, dunia memperingati Global Tourism Resilience Day—hari refleksi global tentang bagaimana sektor pariwisata harus mampu bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari krisis. Peringatan ini ditetapkan oleh United Nations sebagai pengakuan atas pentingnya ketahanan dalam industri pariwisata global.

Momentum ini lahir dari kesadaran bahwa pariwisata adalah sektor paling rentan terhadap guncangan: pandemi, bencana alam, krisis ekonomi, konflik geopolitik, hingga perubahan iklim. Namun sekaligus, ia adalah sektor yang paling cepat bangkit—jika dikelola dengan sistem yang benar.

Bagi Kota Padang, 17 Februari 2026 bukan sekadar seremoni internasional. Ia adalah titik refleksi strategis.
Apa Itu Tourism Resilience? Dalam kerangka global yang dikembangkan oleh UN Tourism, ketahanan pariwisata mencakup: Kemampuan mengantisipasi risiko, Kemampuan merespons krisis , Kemampuan beradaptasi secara struktural. Kemampuan pulih tanpa kehilangan identitas .Resilience bukan sekadar bangkit. Resilience adalah bangkit dengan kualitas yang lebih baik.

Padang dan Ujian Ketahanan

Sebagai kota pesisir di zona rawan gempa dan tsunami, Padang memiliki realitas geografis yang menuntut perencanaan jangka panjang. Ditambah tekanan urbanisasi, persoalan sanitasi, tata ruang pesisir, serta degradasi kawasan heritage—tantangan ketahanan bukan teori, melainkan kebutuhan.

Ketahanan pariwisata Padang harus dibangun di atas tiga fondasi:
1. Heritage Resilience
Kawasan Kota Tua harus dikelola sebagai zona cagar budaya yang hidup. Destinasi tanpa identitas adalah destinasi yang mudah runtuh saat krisis.
2. Blue Resilience
Sebagai kota maritim dengan sejarah pelabuhan Emmahaven—kini Teluk Bayur—Padang harus menjadikan blue economy sebagai strategi ekonomi jangka panjang. Laut yang bersih adalah jaminan keberlanjutan industri.
3. Gastronomy & Hygiene Resilience

Tidak ada ketahanan destinasi tanpa standar sanitasi yang kuat. Isu toilet adalah isu reputasi. Destinasi kelas dunia tidak boleh gagal pada standar dasar. 17 Februari 2026: Bukan Seremoni, Tetapi Deklarasi ArahGlobal Tourism Resilience Day harus dimaknai sebagai:Hari penegasan penataan Kota Tua sebagai heritage district prioritas,Hari komitmen reformasi sanitasi gastronomi, Hari penguatan tata kelola marine tourism berbasis blue economy,bHari integrasi green infrastructure dalam tata ruang destinasi .Resilience bukan slogan di panggung konferensi.
Resilience adalah disiplin kebijakan.

Penutup: Ketahanan sebagai Harga Diri Kota,Pariwisata berkelas bukan tentang kemewahan.Ia tentang disiplin, standar, dan integritas tata kelola.Kota yang menghormati sejarahnya akan menjaga bangunannya.,Kota yang memuliakan rasanya akan menjaga dapur dan toiletnya. Kota yang memahami lautnya akan melindungi pesisirnya.
17 Februari 2026 bukan hanya tanggal internasional.Bagi Padang, ia bisa menjadi titik balik sejarah.Karena ketahanan pariwisata bukan tentang bertahan hidup.Ia tentang memastikan masa depan tetap bermartabat.Dan kota yang memperlakukan dirinya dengan standar tinggiakan dihormati oleh dunia.

0 Komentar