Tuapejat ( INDOMEN ) ~ KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) bersama GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), Pemuda Katholik, ANSOR, Pemuda Muhammadiyah, SAPMA (Satuan Pelajar dan Mahasiswa) dan masyarakat melakukan Aksi Damai dihalaman Kantor Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Mentawai di Jalan Raya Tuapejat.(Senin, 02/03/2026).
Aksi tersebut didasari oleh ketidakpuasan terhadap layanan listrik yang dalam beberapa waktu ini lebih sering padam tanpa pemberitahuan dan selalu meleset dari yang dijadwalkan sekaligus menuntut kompensasi atas akibat dari pemadaman tersebut.
Dalam orasinya, perwakilan massa yaitu Ketua GAMKI Mentawai W Ridho Pagora menegaskan bahwa masyarakat bukan hanya menginginkan listrik menyala normal, tetapi juga pelayanan yang profesional dan transparan. "Kami menuntut tanggung jawab PLN atas kerusakan alat elektronik dan akibat lain yang ditimbulkan karena seringnya pemadaman tidak sesuai jadwal dan tidak adanya pemberitahuan sebelumnya," ucap Ridho Pagora.
Dalam orasinya Ridho Pagora menyebutkan kerugian nyata yang masyarakat alami :Televisi, kulkas, mesin cuci, charger, komputer rusak akibat listrik padam mendadak. Pelaku usaha kecil kehilangan omzet karena freezer mati, es krim mencair, makanan basi.Bengkel dan tukang las tidak bisa bekerja berjam-jam bahkan berhari-hari.Toko pulsa, wamet, dan usaha fotokopi kehilangan pelanggan.Anak sekolah tidak bisa belajar malam hari. Rumah sakit, puskesmas, dan pelayanan publik terganggu.Masyarakat membeli genset dan stabilizer mahal karena listrik tidak stabil.Tagihan listrik tetap harus dibayar penuh meskipun listrik sering padam
Dalam aksi tersebut mereka menuntut : 1. Penjelasan resmi penyebab seringnya listrik padam., Jadwal pemadaman yang jelas dan tepat waktu., Tidak ada lagi pemadaman mendadak tanpa pemberitahuan.. Mekanisme ganti rugi kerusakan alat elektronik masyarakat.,Langkah nyata memperbaiki jaringan dan menstabilkan listrik.
Dalam kesempatan tersebut juga dipertanyakan tentang keterbatasan daya, namun juga tentang kondisi mesin pembangkit yang disebut sudah tua dan tidak lagi optimal. Mereka mendesak adanya langkah konkret untuk pembenahan sistem kelistrikan di Mentawai agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Dalam komunikasi dua arah, Manager PLN ULP Mentawai, Hadi Permana menjelaskan penyebab terjadinya pemadaman tersebut. Hadi menjelaskan kondisi PLN saat ini dan akan menyampaikan point - point yang disampaikan kepada pimpinan PLN dan tentang ganti rugi akan dilakukan sesuai mekanisme.
Berhubung komunikasi dua arah tidak menemukan titik, akhirnya disepakati 10 perwakilan dari massa yang diundang kedalam ruangan rapat Kantor PLN Tuapejat.
Didalam ruang rapat tersebut, perwakilan massa meminta agar Laporan Realisasi tahun 2025 dibacakan dan dibukakan kepada publik. Namun alih-alih menanggapi permintaan tersebut, Manager Manager PLN ULP Mentawai, Hadi Permana lebih menanggapi panggilan telpon yang menurut pengakuannya dari atasannya.
Karena kesal dan merasa diabaikan, massa bergerak meninggalkan halaman Kantor PLN Tuapejat menuju ke Kantor DPRD Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk menyampaikan aspirasinya.(Win)

0 Komentar