Tuapejat (Indomen) ~ Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai membuka peluang bagi generasi muda daerah untuk bekerja di Jepang melalui Program PRIMA (Peningkatan Resiliensi dan Mutu Pekerja Migran Indonesia). Pada tahap perdana, sebanyak 10 orang calon pekerja migran akan dipersiapkan dan diberangkatkan secara bertahap sesuai permintaan perusahaan di Jepang.
Program tersebut dilaksanakan Pemkab Kepulauan Mentawai bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara (YPAN). Menariknya, seluruh biaya persiapan hingga penempatan kerja dalam skema full funding ditanggung terlebih dahulu oleh pemerintah daerah.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sahad Pardamaian, S.T., M.A.P., saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (20/8/2026), mengatakan program tersebut merupakan langkah pemerintah daerah membuka akses lapangan kerja sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
Menurut Sahad, pada awalnya kebutuhan tenaga kerja yang diajukan mencapai 50 orang. Namun, karena keterbatasan anggaran daerah, untuk tahap perdana Pemkab Mentawai baru dapat memfasilitasi 10 orang.
“Untuk permintaan awal sebenarnya sebanyak 50 orang. Namun karena keterbatasan anggaran, untuk perdana kita baru bisa mengirim 10 orang,” ujar Sahad.
Ia menjelaskan, setiap peserta mendapatkan dukungan pembiayaan sekitar Rp72 juta per orang. Anggaran tersebut digunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan peserta mulai dari proses persiapan, pelatihan, administrasi, pemeriksaan kesehatan, pemberkasan hingga keberangkatan dan pendampingan.
Meski ditanggung pemerintah daerah pada tahun pertama, biaya tersebut nantinya dikembalikan peserta secara bertahap melalui sistem cicilan selama masa kontrak kerja.
“Pembiayaannya sekitar Rp72 juta per orang. Pemerintah daerah yang menanggung terlebih dahulu, kemudian pengembaliannya dicicil selama masa kontrak kerja,” jelasnya.
Kontrak Kerja Lima Tahun
Para peserta yang dinyatakan lolos nantinya akan mengikuti rangkaian persiapan sebelum diberangkatkan ke Jepang. Salah satu tahapan utama adalah pelatihan di Jakarta yang berlangsung sekitar tiga bulan, termasuk pembelajaran bahasa Jepang, pembinaan karakter dan persiapan menghadapi dunia kerja.
Program PRIMA sendiri menggunakan skema Full Funding, yang mencakup tiga komponen utama, yakni pembiayaan pra-kerja, pembiayaan penempatan, serta pendampingan peserta hingga proses penempatan kerja.
Pembiayaan pra-kerja meliputi pelatihan, pembelajaran bahasa Jepang, pembinaan karakter dan persiapan kerja. Sementara pembiayaan penempatan mencakup administrasi, pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU), pemberkasan hingga keberangkatan ke Jepang.
Peserta juga mendapatkan pendampingan selama mengikuti program hingga benar-benar ditempatkan bekerja.
Adapun kontrak kerja yang ditawarkan mencapai lima tahun, sehingga para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman kerja internasional, tetapi juga memiliki kesempatan membangun kondisi ekonomi yang lebih mandiri.
Animo Masih Rendah
Di sisi lain, Sahad mengakui animo masyarakat Mentawai terhadap program tersebut masih tergolong rendah. Hingga Kamis (20/8/2026), baru sekitar 15 orang yang mendaftarkan diri melalui tautan resmi pendaftaran.
Menurutnya, salah satu penyebab rendahnya pendaftar adalah masih adanya kekhawatiran masyarakat untuk bekerja ke luar negeri.
“Animo masyarakat masih rendah. Sampai hari ini baru sekitar 15 orang yang mendaftar melalui link. Mungkin masyarakat masih khawatir karena bekerja ke luar negeri,” ungkap Sahad.
Padahal, kata dia, program tersebut dirancang agar calon pekerja mendapatkan pembekalan secara matang sebelum diberangkatkan, termasuk kemampuan bahasa, kesiapan mental, administrasi dan pemeriksaan kesehatan.
Sahad berharap masyarakat, khususnya generasi muda Mentawai berusia 18 hingga 26 tahun, tidak melewatkan kesempatan tersebut.
Ia menilai 10 peserta yang nantinya menjadi angkatan pertama memiliki posisi penting karena keberhasilan mereka akan menjadi gambaran sekaligus contoh bagi masyarakat lainnya.
“Kita berharap program ini sukses sehingga bisa menciptakan generasi yang mandiri secara finansial, meningkatkan perekonomian keluarga. Sepuluh orang yang pertama dikirim ini nantinya bisa menjadi contoh bagi yang lainnya,” katanya.
Dibuka Gratis, Seleksi Dilakukan Bertahap
Pendaftaran Program PRIMA tidak dipungut biaya. Tahapan pendaftaran dan verifikasi berlangsung 1–30 Agustus 2026.
Selanjutnya, peserta mengikuti edukasi dan pemberkasan pada 1–7 September 2026, kemudian seleksi dan wawancara pada 8 September 2026. Tahap pra-pelatihan dijadwalkan 10 September 2026.
Peserta yang lolos kemudian menjalani pelatihan dan MCU pada 1 Oktober hingga 30 November 2026, sebelum memasuki tahap pengukuhan dan pemanggilan pada 17–20 Desember 2026.
Seleksi akan dilakukan secara bertahap, termasuk melalui Zoom Meeting, hingga diperoleh 10 peserta yang dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti program perdana.
Setelah angkatan pertama diberangkatkan, Pemkab Mentawai menargetkan program tersebut dapat dilanjutkan pada tahun berikutnya. Jumlah tenaga kerja yang dikirim akan menyesuaikan kebutuhan dan permintaan perusahaan mitra di Jepang.
“Untuk perdana kita kirim 10 orang secara bertahap sesuai permintaan perusahaan. Setelah itu, atau tahun depan, akan kita kirim lagi tenaga kerja migran sesuai permintaan perusahaan,” jelas Sahad.
Jepang Jadi Tujuan Perdana
Terkait alasan Jepang menjadi negara tujuan, Sahad mengatakan hal tersebut menyesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja yang tersedia saat ini.
“Kenapa Jepang? Karena permintaan saat ini memang untuk ke Jepang,” ujarnya.
Pemkab Mentawai berharap program tersebut tidak berhenti sebatas pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Lebih jauh, program ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Mentawai sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda.
Dengan pembiayaan awal yang difasilitasi pemerintah daerah, pelatihan, pendampingan dan kontrak kerja yang jelas, Program PRIMA diharapkan mampu melahirkan pekerja migran asal Mentawai yang kompeten, mandiri dan mampu membawa dampak ekonomi bagi keluarga maupun daerah.(Win)

0 Komentar