Bupati Rinto Resmi Tutup Bimtek TRC BPBD Mentawai, Siapkan Pasukan Tanggap Bencana yang Siaga 24 Jam

 


Mentawai (Indomen) ~ Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai terus memperkuat sistem penanggulangan bencana melalui pembentukan dan peningkatan kapasitas Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Mentawai. Sebagai wilayah yang berada di kawasan rawan bencana, kehadiran TRC dinilai menjadi kebutuhan mendesak guna memastikan respons darurat yang cepat, tepat, dan terkoordinasi saat bencana terjadi.

Komitmen tersebut ditandai dengan penutupan resmi Bimbingan Teknis (Bimtek) Tim Reaksi Cepat (TRC) oleh Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, setelah pelatihan intensif yang berlangsung selama tiga hari di Jawasan Wisata Homestay Mapadeggat. (Sabtu, 20/06/2026).

Program ini merupakan salah satu langkah strategis BPBD Mentawai dalam membentuk personel tangguh yang mampu menjadi garda terdepan penanganan kebencanaan di wilayah kepulauan. Sebanyak 34 peserta dari berbagai unsur lintas sektor mengikuti pelatihan tersebut, terdiri dari organisasi perangkat daerah (OPD), personel Kodim 0319/Mentawai, Polres Mentawai, serta Basarnas Mentawai.

Turut hadir dalam kegiatan penutupan tersebut Kepala Pelaksana BPBD Mentawai, Kepala Basarnas Mentawai, Kepala Dinas PUPR, Kepala Dinas PKPLH dan Perhubungan, Kepala Dinas Sosial, para narasumber, serta seluruh peserta Bimtek.

Dalam sambutannya, Bupati Rinto Wardana menegaskan bahwa keberadaan TRC harus menjadi kekuatan utama daerah dalam menghadapi berbagai ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi di wilayah Kepulauan Mentawai.

“TRC BPBD Mentawai harus memiliki komitmen yang kuat dalam menangani berbagai potensi bencana yang terjadi di wilayah Kepulauan Mentawai. Mereka harus mampu bergerak cepat, tepat, dan profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tegas Rinto.

Menurutnya, pembentukan TRC merupakan sebuah terobosan baru yang dirancang untuk memperkuat sistem mitigasi dan respons darurat bencana di daerah. Melalui pelatihan yang diberikan, setiap personel dibekali kemampuan dasar penanganan kebencanaan, koordinasi lapangan, hingga penilaian kebutuhan saat masa tanggap darurat.

Ia menjelaskan, keberadaan TRC bukan hanya sekadar tim teknis, tetapi menjadi ujung tombak pemerintah daerah dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat ketika bencana melanda.

“Tim ini dipersiapkan menjadi personel yang tangguh, disiplin, dan siap turun ke lapangan kapan saja untuk membantu masyarakat. Mereka adalah wajah pertama pemerintah saat terjadi keadaan darurat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rinto menekankan bahwa seluruh anggota TRC harus selalu berada dalam kondisi siap siaga selama 24 jam. Dengan karakteristik wilayah Mentawai yang terdiri dari gugusan pulau dan memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi, kecepatan respons menjadi faktor utama dalam menyelamatkan jiwa dan meminimalkan dampak kerusakan.

Ia mengapresiasi terbentuknya TRC BPBD Mentawai yang meskipun masih tergolong baru, namun telah menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam membangun sistem kebencanaan yang lebih kuat dan terintegrasi.

“Keberadaan TRC patut kita apresiasi karena mereka adalah garda terdepan dalam penanganan darurat bencana. Tugas mereka bukan hanya melakukan kaji cepat dan evakuasi, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan pertolongan sesegera mungkin,” katanya.

Bupati juga mengingatkan bahwa Kabupaten Kepulauan Mentawai termasuk salah satu daerah dengan tingkat risiko bencana yang cukup tinggi. Setidaknya terdapat sepuluh ancaman bencana yang berpotensi terjadi, mulai dari gelombang ekstrem dan abrasi pantai, gempa bumi, tsunami, cuaca ekstrem, tanah longsor, banjir, kebakaran hutan dan lahan, likuifaksi, hingga epidemi dan wabah penyakit.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menuntut kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni dan memiliki kemampuan khusus dalam menghadapi berbagai skenario kebencanaan.

Sebagai bagian dari penguatan sistem penanggulangan bencana, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai juga berencana membentuk satuan tugas kebencanaan di tingkat kecamatan serta memperkuat keberadaan Desa Tangguh Bencana (Destana) di berbagai wilayah.

“Ke depan, tidak hanya ada TRC di tingkat kabupaten. Kita akan memperkuat satgas kebencanaan di setiap kecamatan dan mengembangkan Desa Tangguh Bencana agar kapasitas penanganan bencana semakin besar dan menjangkau seluruh wilayah Mentawai,” jelasnya.

Rinto berharap seluruh ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama pelaksanaan Bimtek dapat menjadi bekal awal bagi para peserta untuk menjalankan tugas kemanusiaan di lapangan. Meski pelatihan yang diberikan masih menjadi tahap dasar, namun ia menilai fondasi kemampuan personel telah terbentuk dan akan terus diperkuat melalui latihan berkelanjutan, termasuk pembinaan disiplin yang mengadopsi pola pelatihan semi-militer.

Dengan berakhirnya Bimtek TRC BPBD Mentawai, pemerintah daerah optimistis akan lahir tim yang solid, profesional, dan siap bergerak dalam setiap situasi darurat. Kehadiran TRC diharapkan menjadi pilar utama dalam mewujudkan Mentawai yang lebih tangguh, responsif, dan siap menghadapi berbagai ancaman bencana di masa mendatang.

“Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Karena itu, TRC harus selalu siap menjadi garda terdepan dalam melindungi warga Mentawai dari setiap ancaman bencana,” pungkas Rinto Wardana.(Win).

0 Komentar