“Assalamu’alaikum,
Pak... Pak!”
Terdengar
lirih suara yang cukup saya kenal mengucapkan salam dan memanggil dengan nada
sedikit terburu-buru. Refleks saya melirik jam dinding yang berada di atas lemari
pajang tempat televisi yang sedang saya tonton. Waktu menunjukkan pukul 00.14
WIB.
Saya
langsung bangkit dari rebahan di lantai karena sedang menonton acara televisi.
“Wa’alaikumussalam…”
jawab saya seraya membuka pintu. “Eee, Ririn, Uni Nel Apo kaba?” tanya
saya, sedikit terkejut karena hari sudah larut malam. Yang datang adalah Ririn
dan ibunya, Uni Nel, istri dan anak tetangga sebelah rumah saya.
Terlihat
rona kecemasan di wajah Ririn dan Uni Nel.
“Pak,
iyo batua (benar) ado longsor di Sitinjau Lauik, Pak? Papa Ririn sadang
manuju ka Padang dari Jakarta kapatang (kemarin), 25 Mei 2026. Tantu
Papa lewat Sitinjau Lauik, Pak. Dari berita urang, ado oto truk
yang hampia tatimbun longsor. Tolong
kami carian berita pastinyo,
Pak. Lai ndak oto Papa itu, Pak?” tanya Ririn seraya memegang tangan
saya.
Sentuhan
tangan seorang anak yang menanyakan kondisi papanya, yang mencari nafkah
sebagai sopir truk rute Padang-Jakarta, benar-benar membuat nurani saya yang
paling dalam tersentuh.
“Saba...
saba, tanang yo. Apak tanyo ka kawan atau apak liek beritanyo dulu. Tananglah Ririn jo Uni, bado’a
semoga Papa selamat,” jawab saya, berusaha menghibur putri tetangga dan ibunya
yang menunggu kepastian kondisi papanya.
“Mari
masuk, duduk dulu. Tu ado Tante,” saya mempersilakan mereka masuk. Istri
saya yang sudah terbangun setelah mendengar percakapan kami menyambut mereka.
Setelah
mereka masuk dan duduk, saya langsung mengambil ponsel dan mencari informasi
dari wartawan saya yang meliput di kawasan Kota Padang.
“Benar,
Pak. Kami sudah mendapat informasi bahwa memang terjadi longsor, tetapi mobil truk
tersebut tidak tertimpa longsor, hanya nyaris tertimpa. Kondisi truk dan
sopirnya selamat. Kami akan mengecek nomor kendaraan truk tersebut dan nama
sopirnya, Pak,” jawab Naldi, wartawan saya yang meliput di lokasi kejadian.
“Ririn
jo Uni, awak lah dapek data yang pasti dari wartawan,
kalau memang ado longsor. Tapi,
longsor indak manimbun truk jo sopirnyo. Jadi, truk, sopir, samo kernetnyo selamat. Tapi, antah truk sia dan sia supirnyo alun tau lai do. Awak cubo cari informasi ke pihak kepolisian atau Dinas
Perhubungan,” jawab saya, menenangkan mereka.
“Alhamdulillah,
Papa selamat, Ma!” seru Ririn.
“Papa
lai aman, Ma. Mama, baranti sajolah Papa jadi sopir truk lai.
Jadi sopir lain sajo lai. Takuik Ririn kalau lah tadanga ado
longsor, Ma,” rengek sang anak kepada
mamanya.
“Jadih,
Nak. Tapi menjelang dapek karajo lain tantu itu dulu karajo
Papa awak,” jawab mamanya seraya memegang tangan si buah hati.
Kondisi
seperti ini mungkin dialami oleh banyak anak dan istri para sopir truk
antar pulau yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan demi mencari nafkah
untuk keluarga.
Pemerintah
Provinsi Sumatera Barat tidak menutup mata terhadap persoalan ini. Berulang kali
upaya untuk merehabilitasi dinding tebing dan melakukan pengerasan telah
dilakukan. Namun, kondisi kawasan tersebut tetap menjadi tantangan, terutama
ketika cuaca ekstrem melanda.
Upaya
dan kegigihan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang dipimpin Gubernur Mahyeldi
Ansharullah dan Wakil Gubernur Vasco, bersama anggota DPR RI asal Sumatera
Barat, Andre Rosiade, akhirnya membuahkan hasil.
Groundbreaking
dan pekerjaan awal pembangunan Flyover Sitinjau Lauik dimulai pada Mei
2026.
Bagi
sebagian orang, pembangunan tersebut mungkin hanya berupa proyek infrastruktur.
Namun, bagi keluarga seperti Ririn dan Uni Nel, pembangunan Flyover
Sitinjau Lauik memiliki arti yang jauh lebih dalam sebagai bentuk harapan agar
para sopir yang mencari nafkah melintasi jalur tersebut dapat pulang dengan
selamat kepada keluarga mereka.
Akhirnya,
pembangunan Flyover Sitinjau Lauik dengan panjang 2,774 km yang
menghubungkan Padang dan Solok terwujud. Nilai investasi Flyover
Panorama 1 Sitinjau Lauik mencapai Rp2,793 triliun, dengan total nilai
pembayaran ketersediaan layanan (Availability Payment) sebesar Rp6,38
triliun selama masa kerja sama.
Menurut
Gubernur Sumbar, Mahyeldi, Flyover Sitinjau Lauik dirancang untuk
mengatasi permasalahan geometrik yang sangat menantang di jalur Padang–Solok.
“Tujuan
utamanya adalah meminimalkan kecelakaan lalu lintas, mengurai kemacetan, serta
mengoptimalkan aktivitas logistik yang melewati koridor strategis Pulau Sumatera,”
kata Gubernur Mahyeldi.
Untuk
memastikan kelancaran pembangunan Flyover Sitinjau Lauik, Gubernur Sumatera
Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, meninjau perkembangan pembangunan Flyover
Sitinjau Lauik, pada hari Kamis (17/9/2026).
Peninjauan
tersebut dilakukan bersama sejumlah pihak terkait, seperti Hutama Karya dan
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN). Mahyeldi melihat langsung perkembangan
pekerjaan sekaligus mendengarkan penjelasan teknis mengenai tahapan pembangunan
Flyover Sitinjau Lauik.
“Alhamdulillah,
dengan dukungan semua pihak, masalah tanah sudah selesai. Berarti sekarang HPSL
selaku pelaksana sudah bergerak untuk pembangunan fisik. Untuk saat ini,
progresnya cukup menggembirakan,” ujar Mahyeldi.
Mahyeldi
mengatakan, Flyover Sitinjau Lauik merupakan pekerjaan infrastruktur
yang tidak sederhana, baik dari sisi desain maupun konstruksinya. Berdasarkan
penjelasan tim teknis, Jembatan 3 dan Jembatan 4 memiliki karakter desain
berbeda, termasuk konstruksi melengkung dengan bentang hingga sekitar 180 m serta
konstruksi cable-stayed dengan bentang sekitar 300 m.
“Ini
suatu hal yang tidak sederhana. Alhamdulillah, dari pelaksana dan juga tim yang
ahli, mereka ini luar biasa. Ini suatu kebanggaan juga bagi kita,” ujar
Mahyeldi.
Jalan
Sitinjau Lauik adalah bagian dari jalur yang menghubungkan kota Padang dan kota
Solok, Sumatera Barat. Namun, kondisi geometrik jalan tersebut saat ini tidak lagi
memenuhi standar keamanan dan kenyamanan lalu lintas.
Tikungan
di Sitinjau Lauik memiliki kombinasi geometrik horizontal dan vertikal yang
tidak ideal, menyebabkan resiko kecelakaan dan biaya operasional kendaraan yang
tinggi. Perbaikan diperlukan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan lalu
lintas di wilayah tersebut.
Profesi
sebagai sopir truk bagi pekerja yang terpaksa melewati rute rawan kecelakaan, bagaikan
pilihan yang tak bisa ditolak. Demi menafkahi
buah hati dan istri, para sopir berani mempertaruhkan nayawanya untuk melewati
rute maut tersebut. Bak lagu Pance Pondaag “Demi
Kau dan si Buah Hati”, para sopir menempuh rute ini dengan nekat.
Tak
mudah dan tak seperti membalik telapak
tangan, pembangunan flyover ini betul-betul
menguras energi yang luar biasa dari Pemprov Sumbar dan Pemko Padang. Terutama
untuk proses pembebasan lahan yang menjadi masalah utama pembangunan jalan di
Provinsi Sumatera Barat.
Namun,
dengan penuh kesabaran, saling pengertian dan kerjasama antara pemilik lahan,
ninik mamak, pemko Padang dan Pemprov Sumatera Barat, semua dapat diselesaikan.
Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik
akan jagi gerbang ekonomi dan kebanggaan Sumatera Barat.
Semoga
tak ada lagi anak dan istri yang menunggu kepulangan papanya. Semoga Flyover
Sitinjau Lauik menjadi gerbang rezeki dan pintu masa depan ekonomi Sumatera
Barat. Manjadda Wajada. Aamiin.
(Lailatul
Aidil)
0 Komentar