Tuanku Mudo Veandra Baloen; Tradisi Membantai Kabau di Kapalo Banda Memakai Adat Istiadat Yang Teradatkan




Solok Selatan, (Indomen) - Ratusan ninik mamak yang tergabung dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN) Pakan Raba’a berkumpul di Istano Baloen untuk menghadiri prosesi adat mambantai kabau di Kapalo Banda Baloen, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Sabtu (10/1/2026).

Prosesi adat ini menjadi penanda dimulainya musim turun ke sawah secara serentak di wilayah Pakan Raba’a, sekaligus sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan nikat yang telah diberikan.
Ketua KAN Pakan Raba’a, Mulzamra Dt Rajo Nagaro, menyampaikan bahwa kegiatan mambantai kabau merupakan tradisi adat yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat dalam menyambut masa tanam padi.

“Melalui kegiatan ini, kita mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT. Kita juga berharap hasil panen tahun ini berlipat ganda dan berdampak positif bagi perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Tuanku Mudo Veandra Baloen dalam arahannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh ninik mamak yang telah berperan aktif menyukseskan kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi semangat kebersamaan para ninik mamak, meskipun dalam proses persiapan sempat diwarnai berbagai dinamika.

“Prosesi ini merupakan warisan adat turun-temurun yang wajib kita jaga kelestariannya. Pelaksanaan mambantai kabau di Kapalo Banda Baloen tetap kita lakukan sesuai adat istiadat yang teradatkan, memakai adat lamo pusako usang yang diwariskan oleh ninik moyang kita,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh ninik mamak untuk terus menjaga kekompakan dalam menyukseskan rangkaian kegiatan adat selanjutnya.

“Dengan semangat kebersamaan ninik mamak, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Mari kita sukseskan pula kegiatan makan basamo pada acara puncak besok di Masjid Raya Baloen,” pungkasnya.
Berdasarkan hasil musyawarah mufakat sebelumnya, seluruh ninik mamak sepakat melakukan iuran pembelian kerbau sebesar Rp300.000 per orang. Dari iuran tersebut terkumpul dana sebesar Rp31.800.000. Selanjutnya dilakukan prosesi mamatuik kabau oleh Inyiak Nan Batigo kepada pemilik kerbau, hingga akhirnya disepakati harga kerbau sebesar Rp29.000.000 setelah melalui proses tawar-menawar.

Usai prosesi penyembelihan, daging kerbau diserahkan kepada masing-masing kepala suku untuk dibagikan kepada anggota sukunya. Daging tersebut kemudian diserahkan kepada bundo kanduang untuk dimasak dan disajikan pada acara inti keesokan harinya.

Ketua KAN Pakan Raba’a juga menjelaskan bahwa Inyiak Nan Batigo merupakan tiga orang ninik mamak yang bertugas menggantikan Tuanku Rajo Malenggang apabila berhalangan hadir dalam suatu acara adat di Istano Rajo Baloen. Mereka terdiri dari Inyiak Rajo Indo dari Suku Malaimesiang, Dt Pati Malawani dari Suku Caniago, dan Dt Jo Bagampo dari Suku Kuti Anyia.

“Ketiganya inilah yang disebut Inyiak Nan Batigo untuk mangampati Tuanku Rajo Malenggang,” jelasnya.
Kegiatan mambantai kabau berlangsung dengan khidmat, aman, dan tertib. Para ninik mamak dijamu makan siang bersama, kemudian rangkaian acara ditutup dengan doa bersama di Istano Baloen.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bareno, Daulat Yang Dipertuan Tuanku Rajo Bagindo, Raja Adat Alam Surambi Sungai Pagu, serta Pucuk Pimpinan Kampai Nan 24.(Desri Wahida)

0 Komentar