Perkuat Barisan Penyelamat, BPBD Gelar Bimtek Tim Reaksi Cepat




Mentawai (Indomen) ~ Upaya memperkuat kesiapsiagaan dan respons cepat terhadap berbagai potensi bencana di wilayah Kepulauan Mentawai terus dilakukan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Tim Reaksi Cepat (TRC) yang melibatkan unsur lintas sektor, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), TNI, Polri hingga Basarnas.

Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari tersebut resmi dibuka oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai Motishoki Hura di Kawasan Wisata Homestay Mapadegat.(Kamis, 18/06/2026).

Pelaksanaan Bimtek ini menjadi langkah strategis BPBD Mentawai dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih terintegrasi, profesional, dan responsif. Mengingat Mentawai merupakan daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap berbagai ancaman bencana alam, keberadaan personel yang terlatih dan siap bergerak cepat menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Kepala Pelaksana BPBD Kepulauan Mentawai, Sarman Simanungkalit, menegaskan bahwa pembentukan Tim Reaksi Cepat bukan hanya sekadar program pelatihan, melainkan bagian dari upaya membangun kekuatan bersama dalam menghadapi situasi darurat.

Menurutnya, penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu instansi semata. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga penyelamat, dan seluruh pemangku kepentingan agar setiap kejadian dapat ditangani secara cepat dan tepat.

“Bencana merupakan urusan bersama. Karena itu, kolaborasi dan penguatan sinergitas antarinstansi menjadi kunci utama dalam meningkatkan kemampuan daerah dalam menghadapi berbagai potensi bencana di Kepulauan Mentawai,” ujar Sarman.

Ia menjelaskan, Tim Reaksi Cepat memiliki peran vital sebagai ujung tombak dalam penanganan darurat bencana. Tim ini bertugas melakukan kaji cepat di lokasi terdampak guna memperoleh data akurat terkait kondisi lapangan, jumlah korban, tingkat kerusakan, hingga kebutuhan mendesak yang harus segera ditangani.

Melalui pelatihan tersebut, para peserta dibekali berbagai materi penting, mulai dari manajemen respons bencana, mitigasi risiko, teknik evakuasi korban, penggunaan peralatan SAR, pertolongan pertama, hingga simulasi lapangan yang dirancang menyerupai kondisi nyata saat terjadi bencana.

Sarman menyebutkan, terdapat tiga fokus utama yang menjadi sasaran dalam pelaksanaan Bimtek TRC kali ini. Pertama, meningkatkan kemampuan personel dalam melakukan kaji cepat yang akurat untuk menilai dampak kerusakan dan kerugian pascabencana. Kedua, membangun kesiapsiagaan penuh selama 24 jam dengan memperkuat kondisi fisik, mental, dan koordinasi tim. Ketiga, meningkatkan kapasitas teknis personel melalui penguasaan keterampilan penyelamatan, pertolongan darurat, serta pemanfaatan teknologi pendukung.

“TRC harus mampu bergerak cepat dan tepat dalam mengidentifikasi cakupan
wilayah terdampak, jumlah korban, kerusakan sarana-prasarana, gangguan terhadap pelayanan publik dan pemerintahan, hingga menilai kemampuan sumber daya yang masih tersedia untuk mendukung penanganan darurat,” jelasnya.

Selain melakukan kaji cepat, tim ini juga memiliki tugas penting dalam melakukan penilaian kebutuhan darurat, menghitung kerugian dan kerusakan akibat bencana, serta memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah dalam proses penanganan tanggap darurat.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, BPBD Mentawai berencana membentuk Tim Reaksi Cepat tingkat kabupaten setelah seluruh peserta menyelesaikan proses pelatihan dan penguatan kapasitas. Pembentukan tim nantinya akan disertai dengan peluncuran resmi sekaligus penyusunan struktur organisasi yang akan menjadi motor utama dalam penanganan bencana di daerah.

Tidak hanya itu, BPBD Mentawai juga telah menyiapkan langkah jangka panjang dengan merencanakan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) kebencanaan di setiap kecamatan mulai tahun 2027. Program tersebut akan didukung dengan alokasi anggaran serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung guna memastikan kesiapsiagaan dapat menjangkau seluruh wilayah Mentawai.

Salah satu bentuk dukungan fasilitas yang disiapkan adalah penyediaan radio komunikasi Handy Talky (HT) yang akan digunakan oleh personel TRC untuk memantau berbagai kejadian dan memastikan sistem komunikasi tetap berjalan saat kondisi darurat.

“Peralatan komunikasi ini akan menjadi bagian penting dalam memonitor setiap kejadian sekaligus sebagai sarana pengecekan kesiapsiagaan personel di lapangan,” kata Sarman.

Dengan mengusung slogan “TANGGAP”, BPBD Mentawai berharap keberadaan Tim Reaksi Cepat mampu menjadi kekuatan baru dalam sistem penanggulangan bencana daerah. Tidak hanya mengandalkan kemampuan sumber daya manusia yang terlatih, tetapi juga didukung oleh fasilitas dan peralatan yang memadai sehingga respons terhadap bencana dapat dilakukan lebih cepat, efektif, dan terkoordinasi.

Melalui Bimtek ini, BPBD Mentawai menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak bisa ditunda. Kolaborasi lintas sektor, peningkatan kapasitas personel, serta pembentukan Tim Reaksi Cepat menjadi fondasi utama dalam mewujudkan penanganan bencana yang lebih sigap, terukur, dan berpihak pada keselamatan masyarakat.(Win).

0 Komentar